Minggu, 28 Juni 2009

Sejarah Gereja Dame Saitnihuta

Gereja Dame Sait ni Huta
Setelah berdoa di puncak Bukit Siatas Barita, Dr Ingwer Ludwig Nommensen kemudian turun menuju desa bernama Sait Ni Huta. Perjalanannyapun di sana tidak mulus. Raja-raja huta (kampung) tidak mau memberinya tempat tinggal karena Raja-raja Bius di Rura Silindung telah menyatakan perang dengan orang Belanda yang dulu disebut orang si botar mata (kulit putih), sehingga permohonannya untuk mendirikan tempat tinggal di daerah itu dengan tujuan mendidik, mengobati, terutama memberitakan injil kepada masyarakat Batak tidak digubris. Namun salah seorang raja, Amandari Lumban Tobing (Sutan Sumurung) memberikan tanah pertapakan di pinggir Aek Sigeaon. Itu karena Nommensen membantu menyembuhkan istrinya yang sedang sakit keras.
Di sanalah ia kemudian membangun sebuah perkampungan dan diberinya nama "Huta Dame" (kampung yang damai). Bersama penduduk, Nommensen kemudian mulai membangun sekolah-sekolah, membangun tempat perobatan, hingga akhirnya ia membangun sebuah gereja yang dikenal dengan nama "Gereja Dame" pada tahun 1864 dan merupakan gereja pertama di Tanah Batak.
Perkembangan perkampungan yang dibangunnya itu sangat cepat hingga akhirnya kampung disekitarnya ikut berkembang dan dinamakan Huta Dame II. Di perkampung itulah, kemudian warga ditempat itu membangun dua Gereja Dame pada tahun 1912 dan tahun 1933. Hingga kini, Gereja Dame ke-3 yang terletak di Huta Dame II, masih berfungsi dengan baik. Gereja itu masih digunakan oleh para warga setempat yang merupakan jemaat GKPI dan HKBP secara bergantian.
Sayangnya, gereja kedua yang terletak di Depan Gereja III, sudah tinggal puing-puing. Sementara lokasi Gereja Dame I yang dibangun Nommensen di Huta Dame I pertama kali, kini tinggal tugu tanda peringatan.

1 komentar: