Rabu, 01 Juli 2009

Sejarah Si Boru Natumandi di Tarutung

Si Boru Natumandi
Dahulu kala sewaktu penduduk yang mendiami Rura (Lembah) Silindung masih memeluk kepercayaan Sipelebegu, hiduplah seorang Raja yang kaya, besar dan bersahaja. Mereka hidup dengan damai di sebuah huta di tepi sungai Aek Situmandi yang bersih dan jernih. Tempat tinggal raja itu berada di seberang Huta Siparini sekarang. Huta Siparini terletak di kaki Dolok (Gunung) Siatas Barita. Dolok Siatas Barita adalah tempat “Pamelean” keturunan Guru Mangaloksa sewaktu belum masuk agama Kristen ke Rura Silindung.
Walaupun Dolok Martimbang lebih tinggi dari Dolok Siatas Barita, itu tidak masalah bagi mereka karena guru Mangaloksa pertama sekali mendirikan huta di kaki Dolok Siatas Barita. Dari sanalah awalnya guru Mangaloksa bersama keturunannya mendiami seluruh Rura Silindung. Oleh karena itu, Dolok Siatas Barita merupakan tempat “Dolok Parsaktian” bagi keturunan Guru Mangaloksa sekaligus menjadi tempat Pamelean zaman dahulu.
Terkabarlah Raja ini karena kekayaannya, kebesaran dan kebersahajaannya. Semua tanaman-tanaman diladang maupun disawah berlimpah ruah, bahkan tempat penyimpanan yakni “Sopo” tidak bisa lagi menampungnya. Begitu juga dengan ternaknya ( kerbau dan babi ) berlimpah. Sang Raja tinggal di “Rumah Batak” Tetapi lebih terkenal lagi raja ini karena kecantikan putrinya yang bernama Si Boru Natumandi .
Banyak anak-anak raja yang ingin menjadikan siboru Natumandi menjadi istrinya. Kabar mengenai kecantikan siboru Natumandi sudah tersebar ke “Desa Naualu”. Keindahan tubuh yang semampai, keindahan matanya yang teduh, senyum dan tertawanya yang membuat hati damai, kecantikan wajahnya yang mempesona, rambutnya bagaikan mayang terurai sampai ketumitnya, cara bicaranya yang lemah lembut dan sopan, perilakunya membanggakan orang tua dalam bermasyarakat, dan cara berpakaiannya juga sangat sopan. Tidak ada seorangpun yang melebihi karisma yang dimilikinya bahkan diantara kawan-kawan putri-putri raja yang seumuran denganya di Desa Naualu. Tidak hanya itu, dia pandai mengambil hati kedua orang tuanya, sangat terampil manortor (Tari-tarian suku batak) serta penenun yang handal dan rajin.
Banyak raja-raja dari toba, samosir, humbang, pos-pos, dan angkola datang kepada raja itu untk meminang raja Siboru natumandi menjadi “Parumaennya” (menantunya). Siboru natumandi sangat pandai mengambil hati orang tuanya, sehingga dia putri kesayangan ayah ibunya. Karena itu, sewaktu raja-raja datang meminang Si Boru Natumandi jadi parumaennya, raja hanya menjawab yakni : molo mangoloi borukku, sipanolopi ma ianggo hami ( kalau putriku mau menerima, kami orang tuanya merestuinya).
Mendengar jawaban raja itu, maka semua raja-raja yang mau meminang Si Boru Natumandi menyuruh anak-anaknya menjumpai Si Boru Natumandi untuk meminta agar dia mau jadi istrinya.
Sungguh lemah lembut jawaban Si Boru Natumandi pada anak-anak raja yang datang menjumpainya. Si Boru Natumandi sangat senang menyambut kedatangan anak-anak raja itu. Bahkan mereka disuguhkan dengan makanan yang lezat dan nikmat. Setelah selesai makan dia memberikan jawaban kepada raja tersebut.
Anak-anak raja yang datang tidak bisa tenang, mereka selalu penasaran, hati mereka selalu berdebar-debar, apakah saya diterima? kalimat tersebut yang selalu ada dalam pikiran mereka. Kalau tidak diterima kenapa harus repot-repot memasak, menyuguhkan makanan yang nikmat dan lezat dengan pelayanan yang memuaskan pada saya. Itulah yang menghantui pikiran anak-anak raja setip kali datang meminang. Wajahnya selalu tersenyum tidak menunjukkan ketidak sukaan pada setiap anak-anak raja yang datang. Hal tersebut juga membuat hati setiap anak-anak raja yang datang menjadi gusar dan bertanya-tanya sampai-sampai lupa pada makanan yang disuguhkan itu.
Perasaan ayah dan ibu Si Boru Natumandi ikut juga tidak tenang menunggu jawaban yang diberikan putrinya pada anak-anak raja yang datang itu. Mereka sangat berharap agar putrinya mau menerima salah satu lamaran dari anak raja yang datang itu.
Setelah selesai makan, S Boru Natumandi memberikan jawabannya kepada anak-anak raja yang datang itu dengan sopan dan lemah lembut dia mengatakan : ‘mauliate ma diharoromuna na tu ahu, alai mulak ma hamu ai ndang lomo do pe rohakku mar hamulian’. (terimakasih karena telah datang menjumpai saya, tapi pulanglah kalian, karena saya belum ingin menikah/berumah tangga).
Bagaikan ‘Porhas na manoro di siang ari’ (bagaikan petir yang menyambar di siang hari) perasaan hati anak-anak raja mendengar perkataan Si Boru Natumandi yang singkat itu. Perasaan mereka lemas tak berdaya, tak sanggup lagi menjejakkan kakinya ke atas tanah karena mendengar jawaban tersebut.
Seperti itulah jawaban yang di berikan Si Boru Natumandi kepada setiap anak-anak raja yang datang melamarnya. Sungguh lemah lembut perkataannya, pelayanannya sangat sopan dan baik. Tapi jawabannya yang singkat itu bagaikan disembelih dengan sembilu, sungguh menusuk jantung.
Biasanya setelah anak-anak raja yang datang menjumpai Si Boru Natumandi pulang, kedua orang tua Si Boru Natumandi langsung menanyakan apakah putrinya itu sudah menerima salah satu lamaran dari anak-anak raja yang datang tersebut? Tapi jawaban yang diberikan Si Boru Natumandi selalu sama yakni: ‘dang lomo do pe rohakku mar hamulian amang-inang’ (ayah-ibu saya masih belum mau menikah).
Seperti itu juga raja-raja yang menyuruh anak-anaknya datang menjumpai Si Boru Natumandi mereka selalu bertanya-tanya. Setiap anaknya pulang dari rumah Si Boru Natumandi mereka langsung menanyakan: ‘beha do amang, di jalo do hatami? Asa manigor borhat hami mangarangragi’ (”Bagaimana nak, apakah lamaranmu diterima?” Supaya kita langsung berangkat menjumpai orang tuanya). Tapi dari pancaran wajah si anak yang lesu tidak bersemangat, mereka sudah tahu bahwa anak mereka tidak di terima Si Boru Natumandi. Semua raja-raja yang menyuruh anaknya itu menjumpai Si Boru Natumandi bertanya-tanya: ‘na behado ulaning, na hurang mora do pe au, nahurang do hasangapon hu?’ (apa gerangan yang terjadi, apakah saya kurang kaya, apakah saya kurang bersahaja?) Padahal kekayaan dan kehormatan saya bahkan sangat melebihi orang tua si perempuan, kata hati setiap raja-raja yang mengirim anaknya menjumpai Si Boru Natumandi.
Siang berganti malam, hari berganti minggu, bulan berganti tahun tetapi , jawaban yang diberikan Si Boru Natumandi selalu sama kepada setiap anak-anak raja yang datang melamarnya. Ayah dan Ibunya sedih sebab terdengar berita bahwa raja-raja yang menyuruh anaknya menjumpai Si Boru Natumandi merasa dikecilkan dan mereka sakit hati. Padahal anak-anak raja tersebut tidak memiliki kekurangan bahkan bisa dikatakan sudah sempurna, wajah mereka tampan, kaya dan jug berkedudukan. Tetapi kedua orang tua Si Boru Natumandi bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya. Apa sebenarnya yang dipikirkan Si Boru Natumandi?
Kadang-kadang hati kedua orang tua Si Boru Natumandi sedih memikirkan itu, tapi mereka tidak mau memaksakan kehendak, takut putrinya tersinggung, sedih atau menangis, mereka juga takut putrinya nanti sakit hati pada mereka. Karena Pada dasarnya marga Hutabarat sangat baik dan sayang pada anak perempuannya, bahkan sampai sekarang pun bisa kita lihat dalam kehidupan sehari- hari dan boru Hutabarat sangat baik marhula-hula.
Ada kebiasaan sehari-hari Si Boru Natumandi yakni: dia tidak suka martua aek dan mandi bersama teman-teman sebayanya di sungai. Dia suka martua aek dan mandi di siang hari. Biasanya diwaktu mandi dia marhatobung di sungai. Setiap dia marhatobung, selalu terdengar sampai ke kampung, ladang dan sawah. Bahkan orang yang bekerja di sawah dan di ladang menghentikan pekerjaanya hanya untuk mendengar hatobung Si Boru Natumanding. Entah kenapa, semua hasil pekerjaan Si Boru Natumandi lain daripada yang lain. Seperti hasil tenunannya sangat cantik dan indah lain dari tenunan putri-putri raja. Setiap orang memegang tenunannya, sepertinya ada satu kekuatan yang tidak nampak dan mampu menarik hati orang untuk membelinya. Masakannya juga enak dan selalu nikmat, apa yang dikerjakannya selalu cocok bagi orang yang melihatnya.
Banyak orang bertanya-tanya dalam hati mereka tentang kelebihan yang dimiliki Si Boru Natumandi terutama para tua-tua, dan kelebihan itu tidak membawa keburukan sehingga membuat kaum muda dan orang tua tidak melanjutkan pertanyaan yang selama ini mereka tanyakan dalam hati mereka.
Disuatu hari, ibunya mendengar Si Boru Natumandi sedang berbicara di tempat dia menenun. Ibunya mendekat dan ingin melihat siapa teman putrinya berbicara. Si Boru Natumandi sangat serius berbicara sambil mengerjakan tenunannya. Dari pembicaraan itu terdengar suara seorang pemuda yang menemani putrinya. Terkadang Si Boru Natumandi tersenyum malu, dan kadang-kadang bukan dia yang menenun tenunannya. Ibunya terkejut melihat kejadian itu, sebab di sekeliling tempat putrinya bertenun tidak ada orang yang sedang berbicara dengannya.
Dihapusnya wajah dan dadanya, lalu si ibu tersadar setelah melihat kejadian aneh yang menimpa putrinya. Dia bertanya dalam hatinya “apakah saya sedang bermimpi?” “tapi saya tidak tidur”. Dia kembali melihat putrinya itu, tetapi tetap saja sama seperti yang pertama dilihatnya itu.
Setelah beberapa hari kemudian dia memberitahukan kejadian aneh yang menimpa putrinya itu pada suaminya. “Bibir saya bukan diretak panas……?” (Apa yang saya katakan itu benar) “Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri!” Ujar sang ibu kepada suaminya. Tetapi raja itu tidak menanggapi celotehan istrinya dan juga tidak menanggapi kejadian aneh yang menimpa putrinya itu dengan serius. Malah sang raja menjawab , “ah, atik tung na marnipi do ho boru ni raja nami, nabisuk marroha do borunta i, sodung disurahan pangalahona, tung heama i ?” ( “ah, mungkin dinda sedang bermimpi, putri kita kan orangnya sopan, dan dia tidak pernah berbuat hal-hal yang yang buruk) Akhirnya kedua orang tuanya tidak mempertanyakan masalah itu lagi.
Mungkin Si Boru Natumandi sudah jatuh cinta pada pemuda yang datang menjumpainya itu, sebab disuatu hari dia memberitahukan kepada kedua orang tuanya bahwa dia sudah menemukan pemuda pujaan hatinya. Orang tuanya sangat senang mendengarkan apa yang diberitahukan putrinya.
Biasanya, jika seorang putri sudah menemukan tambatan hatinya. Sudah lumrah bagi orang tuanya untuk menanyakan perihal pemuda yang menjadi tambatan hati putrinya. Bagaimana kelahirannya, bagaimana keadaan keluarganya, bagaimana kekayaannya, dan masih banyak lagi yang akan ditanyakan orang tua pada putrinya perihal pemuda yang menjadi tambatan hatinya. Supaya nantinya putrinya bahagia dan tidak terlantar, serta menantu itu nantinya bisa menjadi kawan yang dapat diandalkan di waktu terjadi hal-hal yang tidak diingainkan terlebih waktu berperang.
Si Boru Natumandi memberitahukan perihal idamannya kepada orang tuanya yakni: “na pat ni gaja tu pat ni hora, pahompu na raja jala anakni na mora do na manopot ibana” (cucu raja serta anak orang kaya yang sedang melamar dia).” Pemuda yang melamar saya adalah pemuda yang baik, berhati bersih, bertanggung jawab dan dia anak raja, kata Siboru Natumandi pada kedua orang tuanya dengan kegembiraan yang terpancar pada pada raut wajahnya. Melihat kegembiraan putrinya itu, kedua orang tuanya tahu bahwa Siboru Natumandi sudah serius menerima lamaran yang datang dari pemuda itu. Kerinduan mereka sudah terpenuhi, sehingga mereka ikut bergembira mendengar kabar tersebut dan mereka berkata: ” ba molo songoni do inang patandahon majo tu hami asa dohot hami mamereng nanaeng ga besirongkap ni tondi mi” (kalau memang seperti itu, pertemukanlah kami padanya, supaya kami dapat melihat pemuda yang menjadi teman hidupmu nanti).
Disuatu hari Siboru Natumandi mempertemukan pemuda itu kepada orang tuanya. Sungguh tampan dia, cara berpakaiannya menunjukkan dia keturunan seorang raja yang bersahaja, bentuk badannya seperti “ulubalang”. Tidak berselang beberapa lama, pemuda itu tiba- tiba menghilang bersamaan kedipan mata kedua orang tua Si Boru Natumandi . Tiba- tiba mereka melihat seekor ular keluar dari rumah mereka. “Apa yang terjadi ?” Kata ayah Si Boru Natumandi: “pasada ma roha dohot pikkiran mu amang , jala sonang ma roha muna paborhatton ahu marhamulian tu silomo ni rohakku” (satukan hati dan pikiranmu ayah, relakan hati kalian memberangkatkan saya memilih pemuda yang menjadi teman hidupku nanti). Kedua orang tuanya terdiam tidak bisa berbicara apa-apa, karena Si Boru Natumandi putri yang sangat mereka sayangi dan kasihi.
Pada suatu hari, Si Boru Natumandi memberitahukan kepada orang tuanya perihal keberangkatannya dan tentang apa saja yang akan mereka kerjakan setelah dia berangkat dari rumah nanti. Hal-hal yang akan mereka kerjakan dan yang perlu diperhatikan adalah:
1. Mereka tidak perlu membuat pesta pemberangkatan, baru setelah 7 hari kemudian baru dibuat pesta yang besar sebab “sinamot” yang akan diberikan cukup besar.
2. Seperti sinamot dari pihak laki- laki, mereka akan meninggalkannya di suatu tempat dengan jumlah 7 “ampang”. Sebelum 7 hari 7 malam ampang itu tidak bisa dibuka oleh siapapun.
3. Setelah 7 hari 7 malam ampang itu baru bisa dibuka dan didalamnya akan terisi emas, itulah yang menjadi sinamot kami.
4. Dalam waktu 7 hari itu setelah kami berangkat, kami akan mengantar “pinahan” untuk dimakan, dan pada waktu pesta itu kami akan mengantar kerbau sebagai “panjuhuti”.
5. Tempat tinggal kami nantinya sangat jauh, kalian ikuti saja “sobuan” yang saya jatuhkan mulai dari depan rumah kita. Dimana sobuan itu nantinya berakhir, sampai disitulah kalian mengikuti saya, sebab jalan yang saya lalui harus melalui sebuah gua yang ujungnya sampai ke daerah Toba dan bercabang ke daerah Penabungan.
Kedua orang tua si Boru Natumandi hanya diam mendengar semua yang dikatakan putrinya itu. Mereka hanya pasrah dan menyerahkan semuanya kepada “Mulajadi Nabolon“.
Setelah tiba waktu keberangkatan Si Boru Natumandi, lalu dia memasak makanan yang lezat mulai dari pagi hari sampai sore hari. Setelah semuanya siap mereka berdua makan bersama, kedua orang tua si Boru Natumandi melihat putrinya sedang makan bersama pemuda yang pernah mereka lihat waktu itu.
Sesudah mereka selesai makan, kemudian orang tuanya melihat mereka lagi tetapi si Boru Natumandi dan pemuda itu tidak ada lagi di tempat mereka makan. Lenyap seperti ditelan bumi, orang tuanya melihat makanan yang tersaji itu tidak berkurang sedikitpun dan sudah dingin seperti sudah lama ditinggalkan.
Pagi-pagi buta, ibu Si Boru Natumandi bangun bersama ibu-ibu lain melihat sobuan tersebut dan mengikutinya seperti yang di pesankan Si Boru Natumandi pada ibunya. Mereka mengikuti sobuan itu hingga sampai di depan mulut sebuah gua yang berada di tepi Aek Situmandi dekat aek rangat. Mereka memberanikan diri memasuki gua tersebut, tetapi karena terlalu gelap mereka memutuskan untuk tidak meneruskannya terlalu dalam lagi. Mereka pulang dan memberitahukan kejadian tersebut. Kabar itu langsung tersebar di seluruh Lembah Silindung.
Setelah matahari terbit dari atas Dolok Siatas barita, sampailah ke huta itu beberapa ekor “aili” yang besar-besar dan gemuk. Sepertinya ada yang menyuruh mereka turun dari hutan menuju Dolok Siatas Barita. Semua aili itu jinak dan tidak meronta sewaktu ditangkap dan disembelih oleh orang-orang kampung untuk digunakan pada acara pesta. Seperti itulah terus menerus aili turun dari hutan di atas Dolok Siatas Barita selama 7 hari, sampai-sampai semua orang yang datang ke acara pesta itu membawa sebagian dagingnya ke kampung masing-masing.
Mungkin sudah kemauan Tuhan Yang Maha Esa, sebab sebelum digenapi 7 hari 7 malam beberapa orang dari keluarga dekat si Boru Natumandi secara diam-diam mengintip isi ampang itu. Padahal Siboru Natumandi sudah memberitahukan bahwa ampang itu tidak bisa di buka oleh siapapun sebelum tergenapi hari yang dijanjikannya. Mereka melihat isi ampang itu hanya sobuan yang sudah mulai menggumpal seperti emas di dalamnya.
Setelah kejadian itu,ayah dan ibu Si Boru Natumandi bermimpi. Mereka didatangi putrinya dan memberitahukan bahwa sudah ada yang melihat ampang yang telah dipesannya itu. Ampang dan isinya sudah hambar sebab pesannya sudah dilanggar.
Melihat semua kejadian yang menimpa keluarga dan putrinya, maka raja tersebut mengumpulkan semua raja-raja, tua-tua kampung dan semua penduduk Hutabarat berkumpul “martonggo” ke Mulajadi Na Bolon “Tung naso jadi ma Boru Hutabarat nauli molo marhasohotan tu “Ulok” (Tidak akan pernah ada lagi boru Hutabarat yang cantik rupawan kalau jadinya kawin sama ular).
Disini kami menegaskan bahwa asumsi masyarakat selama ini tentang si Boru Natumandi (semua boru Hutabarat saat ini) yang sombong adalah salah, dimana menurut cerita selama ini bahwa secantik apapun boru Hutabarat pasti ada cacatnya. Banyak marga Hutabarat membeberkan hal tersebut, tetapi perlu digaris bawahi itu terjadi bukan karena kesombongan namun karena sumpah leluhurnya tersebut.
Namun semua itu dikembalikan kepada penilaian kita masing-masing, kalau kita tinjau dari segi agama mungkin sangat bertolak belakang. Agama pada dasarnya membenarkan suatu kejadian yang benar-benar terjadi bukan rekaan. Kita bisa membacanya dari kitab yang kita yakini sesuai dengan agama yang kita anut. Tetapi walaupun demikian kita tidak bisa menyalahkan budaya Batak terutama pada zaman dahulu. Zaman dahulu masyarakat Silindung masih mempercayai legenda atau cerita rakyat yang bersifat anonim bukan hanya cerita “Si Boru Natumandi”, masih ada legenda lainnya yang dipercayai orang Batak seperti “Terjadinya Danau Toba di Samosir”. Sedangkan zaman sekarang yang diperlukan adalah perkembangan sumber daya manusia (pendidikan/keterampilan) berdasarkan moral religius dan etika. Oleh karena itu, dari segi agama maupun budaya kita bisa memilah mana yang bisa kita terima secara logika.

Senin, 29 Juni 2009

Sejarah Kopi

Sejarah kopi dapat ditelusuri jejaknya dari sekitar abad ke-9, di dataran tinggi Ethiopia. Dari sana lalu menyebar ke Mesir dan Yaman, dan kemudian pada abad limabelas menjangkau lebih luas ke Persia, Mesir, Turki dan Afrika utara.
Pada awalnya kopi kurang begitu diterima oleh sebagian orang. Pada tahun 1511, karena efek rangsangan yang ditimbulkan, dilarang penggunaannya oleh para imam konservatif dan othodoks di majelis keagamaan di Makkah. Akan tetapi karena popularitas minuman ini, maka larangan tersebut pada tahun 1524 dihilangkan atas perintah Sultan Selim I dari Kesultanan Utsmaniyah Turki. Di Kairo, Mesir, larangan yang serupa juga disahkan pada tahun 1532, di mana kedai kopi dan gudang kopi ditutup.
Dari dunia Muslim, kopi menyebar ke Eropa, di mana minuman ini menjadi populer selama abad ke-17. Orang Belanda adalah yang pertama kali mengimpor kopi dalam skala besar ke Eropa, dan pada suatu waktu menyelundupkan bijinya pada tahun 1690, karena tanaman atau biji mentahnya tidak diijinkan keluar kawasan Arab. Ini kemudian berlanjut pada penanaman kopi di Jawa oleh orang Belanda.
Ketika kopi mencapai kawasan koloni Amerika, pada awalnya tidak sesukses di Eropa, karena dianggap kurang bisa menggantikan alkohol. Akan tetapi, selama Perang Revolusi, permintaan terhadap kopi meningkat cukup tinggi, sampai para penyalur harus membuka persediaan cadangan dan menaikkan harganya secara dramatis; sebagian hal ini karena didasari oleh menurunnya pesediaan teh oleh para pedagang Inggris. Minat orang Amerika terhadap kopi bertumbuh pada awal abad ke-19, menyusul terjadinya perang pada tahun 1812, di mana akses impor teh terputus sementara, dan juga karena meningkatnya teknologi pembuatan minuman, maka posisi kopi sebagai komoditas sehari-hari di Amerika menguat.

Kopi Luwak

Kopi Luwak adalah jenis kopi dari biji kopi yang telah dimakan dan melewati saluran pencernaan binatang bernama luwak. Kemasyhuran kopi ini telah terkenal sampai luar negeri. Bahkan di Amerika Serikat, terdapat kafe atau kedai yang menjual kopi luwak (Civet Coffee) dengan harga yang cukup mahal. Kopi yang dikais dari kotoran luwak ini bisa mencapai harga AS$100 per 450 gram. Hanya saja kebenaran kopi yang dijual adalah benar-benar kopi luwak masih dipertentangkan.
Kemasyhuran kopi ini diyakini karena mitos pada masa lalu, ketika perkebunan kopi dibuka besar-besaran pada masa pemerintahan Hindia Belanda sampai dekade 1950-an, di mana saat itu masih banyak terdapat binatang luwak sejenis musang.
Binatang luwak senang sekali mencari buah buahan yang cukup baik termasuk buah kopi sebagai makanannya. Biji kopi dari buah kopi yang terbaik yang sangat digemari luwak, setelah dimakan dibuang beserta kotorannya, yang sebelumnya difermentasikan dalam perut luwak. Biji kopi seperti ini, pada masa lalu sering diburu para petani kopi, karena diyakini berasal dari biji kopi terbaik dan difermentasikan secara alami. Dan menurut keyakinan, rasa kopi luwak ini memang benar benar berbeda dan spesial dikalangan para penggemar dan penikmat kopi.
Namun binatang Luwak saat ini sekarang sukar untuk ditemukan. Dagingnya yang dipercaya dapat mengobati penyakit Asma membuat hewan ini terus diburu. Disayangkan kenikmatan kopi yang berasal dari memungut biji-biji kopi dari kotoran Luwak hanya tinggal mitos.

Kopi Arabika

Kopi arabika ( Coffea Arabica ) tumbuh di daerah dengan ketinggian 700-1700 meter diatas permukaan laut, suhu 16-20 ° C, beriklim kering 3 bulan/tahun secara berturut-turut. Kopi arabika peka terhadap penyakit HV, terutama bila ditanam di daerah kurang dari 500 diatas permukaan laut.

Kopi Arabika

Kopi arabika ( Coffea Arabica ) tumbuh di daerah dengan ketinggian 700-1700 meter diatas permukaan laut, suhu 16-20 ° C, beriklim kering 3 bulan/tahun secara berturut-turut. Kopi arabika peka terhadap penyakit HV, terutama bila ditanam di daerah kurang dari 500 diatas permukaan laut.

Komoditi Unggulan Kabupaten Tapanuli Utara

Tanaman Kemenyan
Kabupaten Tapanuli Utara mempunyai Natural Endowment, yakni Kemenyan (Bahasa Daerah: Haminjon). yang nama botaninya Styrax benzoin Dryand. Kemenyan merupakan salah satu komoditi perkebunan yang paling luas di Kabupaten Tapanuli Utara dan tersebar di seluruh kecamatan y. Tanaman Kemenyan ini merupakan keunggulan komperatif bagi Kabupaten Tapanuli Utara sebab habitat tanaman ini hanya di sekitar dataran tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara seperti Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi dan Tapanuli Selatan. Kemenyan dapat diolah menjadi bahan baku kosmetik, bahan bangunan dan kebutuhan untuk pabrik rokok serta acara ritual adat di Pulau Jawa. Kemenyan yang diproduksi dari Kabupaten Tapanuli Utara ini telah dipasarkan baik didalam negeri maupun luar negeri, seperti Taiwan, Perancis, Jepang dan Singapura yang merupakan negara tujuan ekspor terbesar dari komoditi ini.
Kopi
Tanaman Kopi (Coffea sp) saat ini merupakan salah satu komoditi unggulan perkebunan rakyat dan primadona di Kabupaten Tapanuli Utara yang telah lama dikembangkan/ dibudidayakan masyarakat secara turun-temurun di hampir semua kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara. Species tanaman kopi yang dikembangkan di daerah ini, diantaranya Kopi Arabika (Coffea arabika), Kopi Liberika (Coffea liberica) dan Kopi Robusta.
Tanaman Kopi Lintong dari species Arabika telah dikenal di mancanegara yang memiliki keunggulan komperatif dibanding kopi lain di Indonesia. Kopi Lintong merupakan Natural Endowment bagi Kabupaten Tapanuli Utara yang memiliki keunggulan cita rasa seperti: aroma, taste dan flavour yang prima serta mutu yang lebih tinggi. Kopi Lintong termasuk jenis Arabika dan telah diakui sebagai specialty coffee oleh Specialty Coffee Association of America (SCAA) sejajar dengan Kopi Gayo Takengon, Toraja Coffee, dan Java Coffee.
Saat ini produksi terbesar diantara tanaman perkebunan yang ada di Kabupaten Tapanuli Utara adalah kopi.
Kacang Tanah
Pertanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.) dilaksanakan hampir di setiap kecamatan, karena komoditi ini merupakan salah satu komoditi andalan masyarakat petani dalam upaya peningkatan pendapatan. Hal ini disebabkan di Kabupaten Tapanuli Utara telah dikembangkan sejenis industri yang mengolah kacang tanah menjadi kacang garing yakni “Kacang Sihobuk” yang terkenal gurih, enak dan berkualitas baik, sehingga telah berhasil dipasarkan sampai ke Pulau Jawa.
Nenas
Nenas (Ananas comosus) merupakan salah satu komoditi tanaman hortikultura buah-buahan yang telah dikembangkan masyarakat secara turun-temurun di Kabupaten Tapanuli Utara dan merupakan komoditi andalan masyarakat, dimana pertanamannya tersebar di beberapa kecamatan, seperti: Kecamatan Sipahutar, Pangaribuan, Siborongborong dan Tarutung. Namun pertanaman nenas yang paling dominan berada di Kecamatan Sipahutar, Pangaribuan dan Siborongborong, yang merupakan sentra produksi tanaman nenas di Kabupaten Tapanuli Utara.
Melalui upaya Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara yang memberikan subsidi 50 % dalam pengolahan lahan-lahan tidur dan dikaitkan dengan kebutuhan bahan baku Industri Pengolahan Nenas Terpadu (PT. Alami Agro Industry) di Kecamatan Siborongborong yang telah mulai beroperasi sejak Tahun 2005, maka di tahun-tahun yang akan datang diperkirakan luas areal pertanaman nenas ini akan meningkat secara signifikan.
Ternak Babi
Melihat kondisi dan keberadaan masyarakat Kabupaten Tapanuli Utara, secara umum banyak mengkonsumsi daging babi juga untuk keperluaan adat istiadat. Oleh karena itu, ternak babi telah di programkan di daerah ini menjadi salah satu komoditi unggulan Kabuaten Tapanuli Utara. Pengembangan ternak babi di daerah ini didukung minat masyarakat untuk pertumbuhan dan produksi jenis ternak babi.
Ternak babi dapat berkembang dengan baik pada semua kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara telah mengadakan kerjasama dengan Pemerintah DKI Jakarta di dalam pengembangan ternak babi pada Tahun 1998 dengan sentra pengembangannya di Kecamatan Siborongborong.

Minggu, 28 Juni 2009

Kabupaten Tapanuli Utara

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, sejarah perkembangan Pemerintah Republik Indonesia di Kabupaten Tapanuli Utara diawali dengan terbitnya Belsuit Nomor 1 dari Residen Tapanuli Dr. Ferdinand Lumbantobing pada tanggal 5 Oktober 1945 yang memuat Pembentukan Daerah Tapanuli dan pengangkatan staf pemerintahnya.
Sesuai dengan Undang-undang Darurat Nomor 7 Tahun 1956, di Daerah Propinsi Sumatera Utara dibentuk daerah Otonom Kabupaten, salah satu diantaranya adalah Kabupaten Tapanuli Utara yang wilayahnya mencakup Kabupaten Dairi sekarang.
Sesuai dengan Undang-undang Nomor 15 Tahun 1964 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Dairi, maka pada Tahun 1964 Kabupaten Tapanuli Utara dimekarkan menjadi 2 (dua) yaitu Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi.
Pada Tahun 1988 untuk kedua kalinya Kabupaten Tapanuli Utara dimekarkan menjadi 2 (dua) kabupaten, yaitu Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Toba Samosir, sesuai dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1998 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Toba Samosir dan Kabupaten Daerah Tingkat II Mandailing Natal.
Kemudian pada Tahun 2003, Kabupaten Tapanuli Utara untuk yang ketiga kalinya kembali dimekarkan menjadi 2 (dua) kabupaten yaitu Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan sesuai dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 2003 tentang Pembentukan abupaten Nias Selatan, Kabupaten Pakpak Bharat dan Kabupaten Humbang Hasundutan.
I.I. Kondisi Geografis
Kabupaten Tapanuli Utara secara geografis terletak di Bagian Tengah Sumatera Utara, terletak pada 1º20’ – 2º41’ Lintang Utara dan 98o05’ – 99o16’ Bujur Timur memiliki luas wilayah 3.800,31 Km2 atau 380.031 Ha sudah termasuk di dalamnya luas perairan Danau Toba yang berada di Kecamatan Muara, dan diapit oleh 5 (lima) kabupaten yakni: Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir, Sebelah Timur dengan Kabupaten Labuhan Batu, Sebelah Selatan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan dan Sebelah Barat dengan Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kabupaten Humbang Hasundutan.
Kabupaten Tapanuli Utara terkenal dengan kesuburan tanah dan keindahan alamnya. Hal ini karena ditunjang oleh banyaknya gunung-gunung, baik yang masih aktif maupun dalam kondisi sudah tidak aktif, sekaligus merupakan daerah tangkapan air dan menciptakan hulu-hulu sungai bagi sungai besar dan kecil yang tersebar di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara.
I.2.Kondisi Topografi
Berdasarkan topografinya daerah ini berada dijajaran Bukit Barisan dengan keadaan tanah umumnya berbukit dan bergelombang, hanya sekitar 9,66 % dari keseluruhan luas wilayah yang berbentuk datar dan berada pada ketinggian 300 - 1.500 m di atas permukaan laut.
I.3. Klimatologi
Faktor iklim, antara lain curah hujan dimana banyaknya curah hujan di daerah ini selama Tahun 2007, rata-rata curah hujan tahunan tercatat 8.777 mm dan lama hari hujan 231 hari atau rata-rata curah hujan bulanan sebanyak 731,42 mm dan lama hari hujan 19,25 hari. Dari rata-rata curah hujan bulanan, terlihat curah hujan tertinggi terjadi pada Bulan April yaitu 1.133 mm dan lama hari hujan 27 hari dan curah hujan terendah pada Bulan Agustus yaitu 364 mm dan lama hari hujan 15 hari dan temperatur udara berkisar antara 17oC – 29 oC serta rata-rata kelembaban udara (RH) sebesar 85,04%.
I.4. Hidrografi
Potensi Hidrologi cukup penting untuk menunjang pembangunan, baik untuk kepentingan irigasi, air minum (sanitasi), transportasi maupun untuk kepentingan lainnya. Beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS) berada di Kabupaten Tapanuli Utara, seperti: Aek Garut, Sungai Batang Toru, Aek Rabon, dan Sungai Batugarsi.

Sejarah Gereja Dame Saitnihuta

Gereja Dame Sait ni Huta
Setelah berdoa di puncak Bukit Siatas Barita, Dr Ingwer Ludwig Nommensen kemudian turun menuju desa bernama Sait Ni Huta. Perjalanannyapun di sana tidak mulus. Raja-raja huta (kampung) tidak mau memberinya tempat tinggal karena Raja-raja Bius di Rura Silindung telah menyatakan perang dengan orang Belanda yang dulu disebut orang si botar mata (kulit putih), sehingga permohonannya untuk mendirikan tempat tinggal di daerah itu dengan tujuan mendidik, mengobati, terutama memberitakan injil kepada masyarakat Batak tidak digubris. Namun salah seorang raja, Amandari Lumban Tobing (Sutan Sumurung) memberikan tanah pertapakan di pinggir Aek Sigeaon. Itu karena Nommensen membantu menyembuhkan istrinya yang sedang sakit keras.
Di sanalah ia kemudian membangun sebuah perkampungan dan diberinya nama "Huta Dame" (kampung yang damai). Bersama penduduk, Nommensen kemudian mulai membangun sekolah-sekolah, membangun tempat perobatan, hingga akhirnya ia membangun sebuah gereja yang dikenal dengan nama "Gereja Dame" pada tahun 1864 dan merupakan gereja pertama di Tanah Batak.
Perkembangan perkampungan yang dibangunnya itu sangat cepat hingga akhirnya kampung disekitarnya ikut berkembang dan dinamakan Huta Dame II. Di perkampung itulah, kemudian warga ditempat itu membangun dua Gereja Dame pada tahun 1912 dan tahun 1933. Hingga kini, Gereja Dame ke-3 yang terletak di Huta Dame II, masih berfungsi dengan baik. Gereja itu masih digunakan oleh para warga setempat yang merupakan jemaat GKPI dan HKBP secara bergantian.
Sayangnya, gereja kedua yang terletak di Depan Gereja III, sudah tinggal puing-puing. Sementara lokasi Gereja Dame I yang dibangun Nommensen di Huta Dame I pertama kali, kini tinggal tugu tanda peringatan.

Kamis, 25 Juni 2009

Bagaimana menganalisa kentut orang

Macam-macam kentut:

  • Kentut “tong kosong nyaring bunyinya”

Kentut ini bunyinya saja kencang, tapi tidak ada baunya.

  • Kentut “silent but deadly”

Kentut ini kebalikan jenis kentut yang di atas; tidak berbunyi, namun baunya tidak karuan menakutkan. Orang yang sudah menjadi pakar dalam jenis kentut ini bahkan dapat menimbulkan bau yang mahadahsyat dan berkekuatan tinggi sehingga seisi gedung dapat mencium baunya.

  • Kentut beraroma

Kentut ini aromanya berbeda dari kentut yang umum, karena sang pelaku baru saja memakan makanan yang baunya khas. Kentut ini juga bisa terjadi jika si pelaku menyemprotkan wewangian di lubang anusnya.

  • Kentut combo

Kentut dalam jumlah banyak yang terjadi secara bertubi-tubi. Biasanya bersuara kencang.

  • Kentut bermelodi

Kentut dengan suara yang bernada. Yang sudah pakar dapat memainkan sebuah lagu.

  • Kentut muncrat

Tidak hanya gas yang keluar dari lubang. Biasanya zat kental atau cairan berwarna coklat kekuningan.

  • Kentut keras

Pelaku harus menggunakan seluruh otot dan tenaga untuk melakukannya.

  • Kentut nggak sengaja

Pelaku sama sekali tidak ada persiapan untuk melakukannya. Sering terjadi saat orang yang bersangkutan dikejutkan oleh orang lain, atau terkejut sendiri.

  • Kentut sambil tertawa

Kentut jenis terbagi menjadi 2 jenis, yaitu:

Metode aktif, di mana pelaku sengaja melakukan kentut sambil tertawa (biasanya terbahak-bahak) untuk menutupi suara yang ditimbulkan.

Metode pasif, di mana si pelaku tanpa sengaja kentut saat dibuat tertawa oleh orang lain.

  • Kentut minimalis

Tidak berbau dan berbunyi. Hanya sekedar melepaskan sedikit gas dari tubuh.

  • Kentut tidak jujur

Orang yang kalau kentut lalu menyalahkan orang lain.

  • Kentut sejati

Orang yang habis kentut, dia ngaku.

  • Kentut CS

Sebelum kentut, dia teriak “FIRE IN A HOLE!”

  • Kentut kungfu

Sebelum kentut, teriaknya “CIAAAT!”

  • Kentut sukses

Abis kentut, dia bilang “YES!”

  • Kentuters sakti

Jika kentut…. baunya bisa berhari-hari.

Sedangkan manfaat kentut di antaranya adalah:

  • Merelaksasikan tubuh.
  • Meramaikan suasana.
  • Mempermalukan diri sendiri.
  • Mengkambinghitamkan orang lain.
  • Bermain musik (bagi yang pakar).
  • Untuk dijadikan senjata mematikan.
  • Untuk pamer/show-force.
  • Untuk mengecohkan/menarik perhatian orang lain.
  • Jadi wewangian tubuh. Namun belum ada pabrik parfum yang membuat parfum beraroma kentut.
  • Melapangkan suasana (orang akan lari bila berbau kentut).
Meningkatkan nilai. Pas ujian kentut deh, yang menjaga ruang ujian pasti beritikad untuk keluar. Gunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Pastikan mengkonsumsi jengkol, pete, terasi, ikan asin, singkong untuk meningkatkan validitas kentut anda.

Pancasila di hutaku

Butir-butir Pancasila bila diterjemahkan ke dalam bahasa Batak Toba.

Pancasila [bahasa Indonesia]

  1. Ketuhanan yang maha esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Pancasila [versi bahasa Batak Toba]

  1. Sada: Dang adong na pajago-jagohon di jolo ni Debata
  2. Dua: Maradat tu sude jolma
  3. Tolu: Punguan ni halak Indonesia
  4. Opat: Marbadai, marbadai, dungi mardame
  5. Lima: Godang pe habis, saotik pe sukkup

Manfaat mandi

Manfaat Mandi

Menurut penelitian terbaru mandi ternyata tidak hanya baik untuk
membersihkan tubuh dari kotoran dan menjauhkan stress, juga memiliki peranan penting dalam meningkatkan sistem kekebalan, membantu kulit terhindar dari penyakit seperti eksema dan bahkan menyembuhkan masalah medis serius.

Suatu studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine menunjukkan penderita diabetes yang menghabiskan hanya setengah jam berendam dalam bak air hangat dapat menurunkan tingkat gula darah sekitar 13 persen.

Penelitian terpisah di Jepang menunjukkan 10 menit berendam dalam air hangat dapat memperbaiki kesehatan jantung baik pria maupun wanita, membantu mereka mengatasi test olahraga lebih baik dan mengurangi rasa sakit.

Apa manfaat mandi dan berapa lama anda sebaiknya mandi? Berikut beberapa petunjuk:

Mengeluarkan racun
Mandi air hangat sekitar 32-35 derajat Celsius membuka pori-pori yang dapat membantu mengeluarkan toksin. Mandi air hangat juga dapat membantu menurunkan tingkat gula darah, menyembuhkan sakit otot dan membantu menjaga usus besar bekerja dengan baik. Waktu yang dianjurkan selama 10-20 menit.

Stress
Jika anda benar-benar mengalami stress, mandi air dingin akan menjadi jawaban yang tepat. Temperatur yang dianjurkan sekitar 12-18 derajat Celsius. Mandi air dingin sangat baik meredakan ketegangan, sebaliknya dari air hangat karena mandi air dingin dapat mempersempet darah dan meningkatkan tingkat gula darah.

Eksema
Penyakit kulit tertentu seperti eksema, ruam atau gatal-gatal dengan menambahkan baking soda (sodium bicarbonate) ke dalam bak mandi dapat membuat perbedaan besar. Sodium bicarbobate bertindak sebagai antiseptik. Isi air dengan air hangat kuku, tambahkan kira-kira satu pound baking soda dan aduk sampai rata. Dianjurkan berendam selama 10-20 menit.

Infeksi
Infeksi yeast seperti sariawan dapat dibantu dengan menambahkan tiga atau empat cuka dari sari buah apel ke dalam bak mandi. Ini juga baik untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh karena cuka dapat menyeimbangkan kembali asam. Tambahkan pada air hangat dan berendam selama 15-20 menit.

Flu dan Sakit Kepala
Merendam kaki dalam air hangat dapat membantu menyembuhkan flu dan sakit kepala dan juga menyegarkan kembali kaki yang lelah. Masukan air hangat secukupnya dalam bak sampai menutupi kaki dan pergelangan kaki tambahkan beberapa tetes minyak seperti lavender, peppermint atau lemon. Setelah selesai basuh dengan air dingin. Lakukan selama 10-20 menit.

Insomnia
Merendam kaki dalam air dingin sangat baik bagi anda yang memiliki masalah insomnia atau mereka yang memiliki masalah tidur. Masukan kaki sampai kaki merasa dingin. Pengobatan ini juga berguna bagi kaki lelah, pendarahan hidung, flu dan sembelit.

Sirkulasi
Cobalah merendam kaki secara bergantian antara air hangat dan air dingin jika anda mengalami masalah sirkulasi. Mulai dengan merendam kaki selama satu atau dua menit dalam air hangat, kemudian 30 menit dalam air dingin. Cobalah lakukan selama 15 menit kemudian diselesaikan dengan air dingin.